Amal Bunda

Anita Ratna Faoziyah Gagas Model Filantropi Berbasis Siklus Kehidupan untuk Perkuat Dampak Zakat

Bagikan :

CILACAP – Di tengah meningkatnya tuntutan agar zakat mampu memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan, Ketua LAZ Yayasan Amal Bunda, Anita Ratna Faoziyah, S.T., M.Sc.,menghadirkan sebuah pendekatan yang menempatkan zakat sebagai instrumen pembangunan manusia. Melalui kepemimpinannya, LAZ Yayasan Amal Bunda mengembangkan Model Filantropi Berbasis Siklus Kehidupan (Life-Cycle Philanthropy), sebuah konsep yang mengintegrasikan layanan sosial, kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat pada setiap fase kehidupan.

Konsep ini berangkat dari keyakinan bahwa persoalan sosial tidak dapat diselesaikan dengan bantuan yang bersifat sesaat. Zakat perlu dikelola secara profesional agar mampu mendampingi masyarakat sejak masa kanak-kanak, memperkuat keluarga, memberdayakan perempuan, hingga memastikan para lansia menikmati masa tua yang sehat dan bermartabat.

“Kami ingin zakat tidak berhenti sebagai bantuan, tetapi menjadi investasi sosial yang terus menghadirkan manfaat. Karena itu kami mengembangkan model filantropi berbasis siklus kehidupan, di mana setiap fase kehidupan memperoleh pendampingan yang sesuai dengan kebutuhannya. Ketika seorang anak tumbuh sehat, memperoleh pendidikan yang baik, keluarganya semakin mandiri, dan para lansia mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak, maka zakat telah menghadirkan perubahan yang sesungguhnya,” ujar Anita.

Di bawah kepemimpinannya, LAZ Yayasan Amal Bunda membangun ekosistem program yang saling terhubung. Untuk anak-anak, lembaga ini menghadirkan Rumah Sahabat Anak, layanan konsultasi tumbuh kembang bersama dokter anak yang memberikan edukasi kepada orang tua mengenai gizi, pencegahan stunting, tumbuh kembang, dan kesehatan anak.

Kesadaran hidup sehat juga dibangun melalui Program Duta Sehat, yang mengajak anak-anak menjadi agen perubahan dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah maupun keluarga. Di bidang pendidikan, Beasiswa Amal Bunda membantu anak-anak dari keluarga prasejahtera agar tetap dapat melanjutkan pendidikan, sementara Rumah Sahabat Qur’an memperkuat pembinaan karakter, literasi Al-Qur’an, dan nilai-nilai keislaman.

Untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat, LAZ Yayasan Amal Bunda mengembangkan Papan Sedekah Sayur, sebuah gerakan berbagi paket sayur dan bumbu kepada lebih dari 20 ribu masyarakat yang membutuhkan di setiap bulannya. Program ini didukung oleh Bunda Farm, kawasan pertanian produktif yang sekaligus menjadi pusat eduwisata dan pembelajaran mengenai pertanian berkelanjutan, konservasi lingkungan, serta kemandirian pangan bagi anak-anak, pelajar, dan masyarakat umum.

Komitmen terhadap peningkatan kualitas kesehatan diwujudkan melalui Dapur Gizi Amal Bunda, yang secara rutin mendistribusikan ribuan porsi makanan bergizi kepada masyarakat, ibu hamil, balita, lansia, dan kelompok rentan lainnya sebagai bagian dari upaya mendukung pencegahan stunting dan pemenuhan gizi keluarga.

Sementara itu, bagi kelompok lanjut usia, Amal Bunda menghadirkan Program Rumah Sahabat Lansia, yang setiap bulan melayani sekitar 1.200 penerima manfaat. Program ini terdiri atas 400 lansia binaan dari kelompok asnaf zakat yang mendapatkan pendampingan kesehatan rutin, serta 800 penerima manfaat melalui layanan kesehatan di berbagai titik di Kabupaten Cilacap. Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, asam urat, konsultasi kesehatan, edukasi, hingga pengobatan gratis.

Menurut Anita, seluruh program tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari satu ekosistem pemberdayaan masyarakat yang saling menguatkan.

“Kami tidak membangun program yang berjalan sendiri-sendiri. Seluruh program dirancang saling terhubung, mulai dari kesehatan anak, pendidikan, penguatan perempuan dan keluarga, ketahanan pangan, hingga pelayanan lansia. Inilah yang kami sebut sebagai Model Filantropi Berbasis Siklus Kehidupan. Zakat hadir mendampingi masyarakat pada setiap fase kehidupan sehingga manfaatnya menjadi lebih luas, lebih terukur, dan berkelanjutan.”

Ia menegaskan bahwa pendekatan tersebut merupakan bentuk transformasi pengelolaan zakat dari sekadar charity menuju social impact.

“Ukuran keberhasilan lembaga zakat bukan hanya besarnya dana yang dihimpun atau disalurkan, tetapi seberapa besar perubahan yang dirasakan masyarakat. Ketika seorang anak terhindar dari stunting, seorang ibu semakin memahami pentingnya kesehatan keluarga, perempuan menjadi lebih berdaya, dan lansia dapat menjalani masa tua dengan sehat dan bermartabat, maka zakat telah menjalankan fungsi sosialnya secara optimal.”

Pendekatan ini juga memperkuat kontribusi LAZ Yayasan Amal Bunda terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), di antaranya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Anita berharap konsep yang dikembangkan LAZ Yayasan Amal Bunda dapat menjadi inspirasi bagi penguatan pengelolaan zakat di Indonesia.

“Potensi zakat Indonesia sangat besar. Jika dikelola secara profesional, akuntabel, dan berorientasi pada dampak, zakat dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat pembangunan manusia. Kami ingin membuktikan bahwa zakat tidak hanya menyelesaikan kebutuhan hari ini, tetapi juga mampu membangun generasi yang sehat, cerdas, mandiri, dan sejahtera.”

Melalui Model Filantropi Berbasis Siklus Kehidupan (Life-Cycle Philanthropy), Anita Ratna Faoziyah membawa LAZ Yayasan Amal Bunda melampaui fungsi penyaluran bantuan. Lembaga ini mengembangkan sebuah ekosistem pemberdayaan yang menghubungkan kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan, dan perlindungan sosial dalam satu rangkaian yang berkesinambungan. Pendekatan tersebut menjadi bukti bahwa zakat tidak hanya mampu meringankan beban masyarakat, tetapi juga dapat menjadi penggerak perubahan sosial yang berkelanjutan bagi Indonesia.

Leave a Comment